Batubara (Coal)
NORMALAnalisa per 12 Okt 2026 · kemarinHBA 6.322 GAR terakhir 122.52 USD/t = +8.5% vs rata-rata 12 bulan (112.93) → level NORMAL. Arah DATAR (-1.9% dalam 4 periode HBA terakhir).
Fase = level (NORMAL) × arah (DATAR). Siklus tidak menghalangi pembelian.
Fundamental Komoditas & Industri dikurasi 27 Sep 2026 · 15 hari lalu
Konten dikurasi manual dengan sumber per kartu. Fakta struktural (regulasi, struktur industri) berlaku lama; fakta dinamis (harga, data bulanan) bertanggal — cek tanggalnya di tiap kalimat.
- Indonesia adalah eksportir batubara termal terbesar di dunia.
- Produksi 2025 (realisasi ESDM): 817,48 juta ton — 63,89% ekspor, 30,2% domestik, 5,9% stok.
- 2026: kuota RKAB awal ±600 juta ton. Realisasi Jan–Jul 2026 423,71 juta ton (63,82% ekspor, 26,86% domestik, 9,32% stok); Dirjen Minerba (10 Sep 2026) memproyeksikan produksi setahun ±720 juta ton (±60 juta ton/bulan, −12% dari 2025) — rata-rata bulanan turun ±8 juta ton dibanding 2025.
- Semester I 2026 (ESDM): produksi 367,06 juta ton (61,18% kuota RKAB); ekspor 231,06 juta ton senilai US$14,09 miliar; pasokan DMO 81,58 juta ton.
- Meski volume turun, PNBP batubara Jan–Agu 2026 mencapai Rp66 triliun (periode sama 2025: Rp59 triliun) karena harga naik.
- IEA (Coal Mid-Year Update 2026): permintaan batubara global 2025 8,84 miliar ton (+0,3%, rekor); 2026 diproyeksikan +1,2% ke 8,94 miliar ton — rekor baru. Proyeksi ini berbalik dari laporan Desember 2025 (turun tipis) karena konflik Timur Tengah (gas mahal → peralihan gas ke batubara) dan El Niño kuat (beban pendinginan naik, hidro turun).
- Perdagangan seaborne batubara termal 2026 diproyeksikan turun tipis ke ±1.062 juta ton (2025: ±1.074 juta ton); impor seaborne termal China turun ke ±310 juta ton (2025: 325) dan India ke ±160 juta ton (2025: 167) — IEA.
- China: permintaan 2026 +1% ke ±5 miliar ton; produksi Juni–Juli 2026 turun ±10% y/y (terdalam sejak 2016) karena inspeksi keselamatan pasca kecelakaan tambang fatal di Shanxi (Mei) — lebih dari 100 tambang (>100 juta ton/tahun) ditutup sementara (IEA).
- India: permintaan 2026 diproyeksikan +4,2% ke 1.353 juta ton, tetapi produksi domestik rekor ±1.095 juta ton menekan impor; ASEAN (Indonesia konsumen terbesar) terus tumbuh ke ±574 juta ton (IEA).
- Newcastle (benchmark termal Asia): 143,75 USD/ton (25 Sep 2026) — naik ±9,5% dalam sebulan dan +35,1% dibanding setahun lalu (Trading Economics); rata-rata Juni 2026 US$139/ton, naik dari US$115 di Februari (IEA). All-time high 457,80 USD/ton (Sep 2022). Penggerak terbaru: gangguan pasokan LNG Timur Tengah mendorong pembangkit di China, Korea, Jepang, dan Eropa beralih dari gas ke batubara.
- HBA kalori tinggi (6.322 kcal/kg GAR) periode II September 2026: 123,54 USD/ton (Kepmen ESDM 364.K/MB.01/MEM.B/2026), turun dari 126,87 (periode I). Jalur sejak Juli: 126,58 (Jul I) → 131,85 (Jul II) → 124,44 (Agu I) → 124,06 (Agu II) → 126,87 (Sep I) → 123,54 (Sep II).
- Sepanjang 2025 HBA cenderung turun: 124,01 (Jan 2025) → 98,26 (Des I 2025), karena pasokan global kuat dan China–India menggenjot produksi domestik.
- HBA ditetapkan 2× sebulan oleh ESDM dan sejak 1 Maret 2025 wajib menjadi acuan harga ekspor.
- HBA periode II September 2026 kalori lebih rendah: 5.300 GAR 93,94; 4.100 GAR 63,17; 3.400 GAR 44,53 USD/ton (periode I: 95,05 / 65,06 / 44,15). Rata-rata HBA kalori tinggi Jan–Agu 2026: ±111,8 USD/ton (ESDM).
- World Bank (CMO April 2026): batubara Australia diproyeksikan rata-rata 130 USD/ton pada 2026 dan 115 USD/ton pada 2027 (2025: 108,4).
- Ekspor 2025 = 63,89% dari produksi 817,48 juta ton (ESDM). IEA mencatat ekspor batubara termal RI turun ke 517 juta ton (2024: 557 juta ton) — penurunan terbesar di dunia — dan memproyeksikan ekspor 2026 turun lagi ke ±495 juta ton.
- Semester I 2026: ekspor 231,06 juta ton (US$14,09 miliar); tujuan terbesar China 87 juta ton, India 43 juta ton, Filipina 19 juta ton (ESDM). China dan India sama-sama menurunkan impor seaborne pada 2026 (IEA).
- Juni 2026: pemerintah menahan sebagian penjualan ekspor untuk dialihkan ke PLN. Dari kebutuhan PLN 2026 sebesar 154 juta ton, baru 134 juta ton terkontrak — PLN masih mencari 18–20 juta ton batubara kalori sedang; Menteri ESDM membentuk tim khusus (PLN, BPKP, Itjen ESDM) untuk mengawasi pasokan.
- DMO (Domestic Market Obligation): harga batubara untuk pembangkit listrik domestik di-cap USD 70/ton — belum berubah sejak 2018. ESDM mengkaji formula baru (Juni 2026), tetapi Menteri ESDM (23 Jun 2026) menegaskan harga DMO tetap dan belum ada keputusan perubahan.
- HBA wajib ekspor (Kepmen ESDM 72.K/MB.01/MEM.B/2025, efektif 1 Maret 2025): semua penjualan ekspor batubara wajib mengacu HBA; HBA terbit 2× sebulan; harga DMO listrik tetap USD 70/ton.
- Royalti progresif (PP 18/2025 dan PP 19/2025, efektif 26 April 2025): tarif royalti mengikuti level HBA — pemegang IUP dari 15% (HBA < USD 70) sampai 28% (HBA >= USD 180); pemegang IUPK juga dikenakan bagian pemerintah 4% dari laba bersih. Konsekuensi: saat harga tinggi, margin tambahan dipotong royalti lebih besar.
- DHE SDA (PP 21/2026, berlaku 1 Juni 2026; sebelumnya PP 8/2025): eksportir non-migas wajib menempatkan 100% devisa hasil ekspor minimal 12 bulan di rekening khusus bank Himbara; konversi ke rupiah maksimal 50%; PPh atas instrumen penempatan bisa 0% — mengunci likuiditas valas emiten.
- Kuota produksi via RKAB: kuota 2026 ±600 juta ton. Revisi RKAB dibuka Juli 2026; per 19 Agu 2026 ESDM menyetujui revisi belasan perusahaan batubara (dan belasan nikel) secara selektif tanpa merinci volume — prioritas diberikan pada perusahaan dengan kontribusi royalti/PNBP lebih tinggi.
- Bea keluar batubara (rencana tarif ±1–5%, target tambahan penerimaan ±Rp20 triliun) BELUM berlaku: tidak jadi diterapkan 1 Jan maupun 1 Apr 2026, lalu 13 Mei 2026 Menkeu dan Menteri ESDM sepakat menunda bea keluar batubara–nikel beserta kenaikan royalti tambang; belum ada tanggal penerapan baru.
- Ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI; PP 24/2026) untuk batubara, CPO, dan ferroalloy: masa transisi 1 Jun–31 Des 2026 (Permendag 15/2026) — eksportir terdaftar tetap bertransaksi tetapi wajib melapor/dokumentasi lewat DSI; mulai 1 Jan 2027 seluruh proses ekspor (pra hingga pasca kepabeanan) dilakukan DSI. Per 24 Agu 2026 DSI memantau ±6.500 deklarasi ekspor (>US$14 miliar, >90 juta ton). Di forum Coaltrans Asia (Sep 2026) DSI menyatakan tidak mengambil alih pengapalan dan fokus pada tolok ukur harga untuk mendeteksi underinvoicing.
- Struktur rantai pasok (konteks umum industri): tambang open-pit di Kalimantan/Sumatra → kontraktor tambang (overburden removal + coal getting) → hauling → barging sungai → transshipment → kapal ekspor.
- Pemain terdaftar per mata rantai — kontraktor: BUMA (DOID), Pamapersada (anak usaha UNTR), PTRO, MYOH; logistik/barging: RMKE, TCPI, MBSS, HAIS; trader: SGER.
- Implikasi investasi: kontraktor dan logistik adalah proxy VOLUME (bukan harga) — mereka dibayar per ton/bcm, sehingga kebijakan pemangkasan produksi 2026 lebih berdampak ke mereka daripada kenaikan harga.
- Konflik Timur Tengah (sejak akhir Feb 2026): gangguan pelayaran di Selat Hormuz mengetatkan pasokan gas dan menaikkan harganya sehingga sebagian sistem listrik beralih ke batubara; IEA merevisi naik proyeksi permintaan 2026 untuk China, Eropa, Jepang, dan Korea. RI ikut melonggarkan produksi: proyeksi 2026 ±720 juta ton vs kuota awal ±600 juta ton.
- China tetap penekan struktural pasar seaborne Asia (produksi 4,71 miliar ton pada 2025; impor seaborne termal 2026 diproyeksikan turun ke ±310 juta ton), tetapi inspeksi keselamatan pasca kecelakaan tambang Shanxi memangkas produksinya ±10% y/y pada Juni–Juli 2026.
- Transisi energi: lonjakan 2026 ditopang faktor sementara (gas mahal, El Niño); IEA (Coal 2025) tetap memproyeksikan permintaan mendatar lalu turun perlahan hingga 2030 — batubara termal menghadapi tekanan struktural jangka panjang, sementara coking coal relatif lebih tahan (baja India).
- Konsentrasi pembeli: China + India menyerap 130 dari 231 juta ton ekspor Semester I 2026 (±56%) — ekspor RI sensitif terhadap kebijakan domestik kedua negara tersebut.
- Harga: reli 2026 ditopang faktor sementara (gas mahal akibat konflik Timur Tengah, El Niño, inspeksi tambang China); World Bank memproyeksikan batubara Australia turun dari 130 (2026) ke 115 USD/ton (2027).
- Regulasi: royalti progresif memotong upside saat harga tinggi; DHE 100% ditahan 12 bulan di bank Himbara (PP 21/2026); bea keluar 1–5% hanya ditunda, belum dibatalkan; harga DMO US$70 sedang dikaji; kuota RKAB membatasi volume; transisi ekspor satu pintu DSI (penuh 1 Jan 2027) berisiko menambah biaya dan keterlambatan transaksi.
- Permintaan struktural: transisi energi menekan permintaan termal jangka panjang (IEA: plateau hingga 2030 meski 2026 mencetak rekor).
- Emiten spesifik: risiko satu tambang (single-asset), umur cadangan, dan disiplin alokasi modal (diversifikasi yang menghancurkan nilai).
- Pemerintah memperketat RKAB batu bara untuk mengendalikan harga global Demokratis.co.id ↗Lensa Hukum ↗
- Pemerintah menurunkan produksi batu bara melalui RKAB SuaraGarut.ID ↗kontan.co.id ↗detikFinance ↗
- Harga batu bara yang tinggi meningkatkan prospek saham perusahaan alat berat KONTAN ↗Cirebon Times ↗kontan.co.id ↗
- Emiten terkait batu bara melakukan akuisisi atau diversifikasi, termasuk perusahaan sepeda listrik dan saham perusahaan batu bara CNBC Indonesia ↗Kumparan.com ↗
- Risiko kebijakan ekspor batu bara DSI menjadi sorotan, memengaruhi harga dan prospek pasar Demokratis.co.id ↗kontan.co.id ↗Cirebon Times ↗
| Emiten | Produksi (jt t) | Penjualan (jt t) | Harga jual (US$/t) | Biaya tunai (US$/t) | Margin tunai (US$/t) | Strip ratio (x) | Cadangan (jt t) | Periode · sumber |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| AADI | 68,7 | 18,4 | 75,6 | — | — | 4,2 | — | 2025-12-31 (FY2025), 2026-06-30 (Q2-2026)[1][2][3] |
| PTBA | 19,5 | 21,1 | — | — | — | 5,3 | 2.880 | 2026-06-30 (H1-2026), 2026-09-15 (Sep-2026 statement)[1][2] |
| ITMG | 9,9 | 12,3 | 81,0 | 61,0 | 20,0 | 10,3 | — | 2026-06-30 (H1-2026), 2026-06-30 (Q2-2026)[1][2][3] |
| BYAN | 32,9 | — | 54,0 | 35,0 | 19,0 | — | 2.031 | 2022-04-01 (JORC Apr-2022), 2026-06-30 (H1-2026)[1] |
| INDY | — | 14,8 | 54,7 | 37,3 | 17,4 | — | — | 2026-06-30 (H1-2026)[1] |
| HRUM | 4,6 | 5,1 | — | — | — | 9,7 | — | 2025-12-31 (FY2025)[1] |
| GEMS | 55,0 | 54,2 | — | — | — | — | 844 | 2025-12-31 (FY2025)[1] |
| BSSR | 17,8 | 17,6 | — | — | — | — | 32 | 2025-12-31 (FY2025)[1] |
| BUMI | 38,5 | 38,8 | 62,9 | — | — | 7,5 | — | 2026-06-30 (H1-2026)[1] |
| ADMR | 7,4 | 6,3 | — | — | — | 3,6 | 178 | 2025-12-31 (FY2025)[1] |
Cohort Tahunan — Pola Siklus 2021–2026
Setiap garis = satu tahun kalender, di-indeks 100 di awal tahun. Kalau garis-garis bergerak searah dengan pola berulang → siklikal/musiman; kalau arah tiap tahun berbeda mengikuti harga komoditas → cyclical murni; kalau naik terus konsisten → struktural. Bandingkan chart saham dengan chart komoditas di bawahnya.
Keputusan per Emiten — Produsen Batubara
Rating = peringkat persentil vs peer × murah-tidaknya vs sejarah emiten sendiri; aksi = rating + syarat waktu. Bobot Valuasi 35% · Kualitas 25% · Growth 15% · Momentum 15% · Risiko 10%. Aksi berubah hanya bila sinyalnya bertahan 3 hari.
- Cek yield lolos pada harga ≤ 2,074 (-59.5%) — yield berulang = median 5 thn
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 2,900 (-43.4%)
- Cek yield lolos pada harga ≤ 9,004 (-65.0%) — yield berulang = median 5 thn
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 22,006 (-14.5%)
- Cek yield lolos pada harga ≤ 637 (-80.3%) — yield berulang = median 5 thn
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 2,278 (-29.5%)
- Tren pulih bila harga menutup di atas MA50 413 (+24.4%)
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 129 (-61.3%)
- Tren pulih bila harga menutup di atas MA50 12,966 (+14.7%)
- Cek yield lolos pada harga ≤ 8,115 (-28.2%) — yield berulang = median 5 thn
- Masuk lebih aman dekat MA50 2,562 (-31.0%) atau setelah RSI < 70
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 547 (-85.2%)
- Tren pulih bila harga menutup di atas MA50 1,587 (+7.3%)
- Tren pulih bila harga menutup di atas MA50 2,685 (+2.9%)
- Cek yield lolos pada harga ≤ 192 (-92.6%) — yield berulang = median 5 thn
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 1,864 (-28.6%)
- Tren pulih bila harga menutup di atas MA50 189 (+14.8%)
- Cek P/B lolos pada harga ≤ 131 (-20.9%)
| Emiten | Kategori | Harga | MCap (T) | EV/EBITDA | P/E | P/B | ROE% | Margin EBITDA% | Div% | RevG% | LabaG% | 3 Bln | Nilai/hari (M) | Peringkat ↓ | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| BSSR | Produsen | 5.125 | 13,4 | 5,0x | 7,7x | 2,8x | 36,5 | 17 | 13,0* | +10.6% | +26.9% | +31.3% | 7,1 | 100 | LAYAKCICIL |
| AADI | Produsen | 11.700 | 91,1 | 4,2x | 6,3x | 1,4x | 22,4 | 23 | 8,6 | +6.1% | +10.5% | +39.7% | 104,5 | 96 | LAYAKCICIL |
| ITMG | Produsen | 25.725 | 28,7 | 2,7x | 7,8x | 0,8x | 10,8 | 18 | 6,7 | +15.1% | +97.3% | +7.5% | 35,2 | 93 | LAYAKCICIL |
| PTBA | Produsen | 3.230 | 37,2 | 5,2x | 7,8x | 1,5x | 18,8 | 15 | 3,6 | +7.7% | +218.1% | +34.0% | 88,7 | 89 | LAYAKTAHAN |
| GEMSTIDAK LIKUID | Produsen | 7.600 | 44,7 | 7,4x | 11,1x | 3,0x | 28,7 | 14 | 11,2 | -10.1% | -29.4% | +27.2% | 1,3 | 86 | NETRALHINDARI |
| KKGITIDAK LIKUID | Produsen | 290 | 1,4 | 3,9x | 22,2x | 0,5x | 2,5 | 6 | 4,5* | -1.2% | +109.6% | +16.9% | 1,1 | 82 | NETRALHINDARI |
| MYOHTIDAK LIKUID | Kontraktor | 990 | 2,2 | 3,3x | 8,6x | 0,7x | 8,2 | 13 | 6,6 | +5.6% | -8.1% | -4.3% | 0,3 | 79 | NETRALHINDARI |
| ADRO | Holding/Diversifikasi | 2.490 | 71,7 | 6,1x | 6,9x | 0,9x | 12,6 | 41 | 10,6 | +16.5% | +76.8% | +1.6% | 96,9 | 75 | LAYAKCICIL |
| ABMMTIDAK LIKUID | Kontraktor | 2.690 | 7,4 | 6,6x | 5,0x | 0,5x | 9,3 | 16 | 3,6 | -0.1% | +41.9% | +15.9% | 1,4 | 71 | NETRALHINDARI |
| DEWA | Produsen | 332 | 13,0 | 3,6x | 2,9x | 1,6x | 55,5 | 73 | 0,5 | +8.7% | +163.9% | -4.0% | 257,3 | 68 | NETRALKURANGI |
| BYAN | Produsen | 11.300 | 376,7 | 18,5x | 25,4x | 8,5x | 33,4 | 31 | 2,4 | +7.3% | +17.5% | -0.4% | 22,6 | 64 | LAYAKCICIL |
| SMMT | Produsen | 3.710 | 12,7 | 94,7x | 159,9x | 18,8x | 12,3 | 7 | 0,0 | +55.3% | +104.7% | +104.4% | 2,1 | 61 | NETRALHINDARI |
| ADMR | Produsen (coking) | 1.480 | 60,5 | 11,4x | 11,1x | 2,1x | 18,7 | 37 | 3,4 | +31.5% | +24.0% | -1.3% | 48,3 | 57 | LAYAKCICIL |
| MBSS | Logistik | 3.910 | 6,8 | 12,1x | 18,4x | 1,7x | 9,0 | 56 | 0,0 | -15.1% | +0.4% | +54.5% | 9,9 | 54 | NETRALKURANGI |
| MBAPTIDAK LIKUID | Produsen | 1.660 | 2,0 | 9,7x | 29,0x | 0,6x | 2,1 | 5 | 0,0 | +39.0% | +267.6% | +23.0% | 0,2 | 50 | NETRALHINDARI |
| ARIITIDAK LIKUID | Produsen | 408 | 1,5 | 4,5x | 19,5x | 1,1x | 5,5 | 7 | 0,0 | +100.4% | -2.4% | +46.8% | 0,3 | 46 | NETRALHINDARI |
| RMKE | Logistik | 326 | 7,1 | 16,5x | 22,4x | 3,7x | 16,5 | 14 | 0,4* | +176.7% | +89.6% | -27.2% | 34,2 | 43 | NETRALKURANGI |
| UNTR | Kontraktor | 24.350 | 85,1 | 7,6x | 11,1x | 0,9x | 7,9 | 10 | 6,3 | -14.9% | -88.2% | -4.4% | 101,6 | 39 | NETRALTAHAN |
| SGER | Trader | 765 | 11,9 | 32,3x | 53,1x | 4,9x | 9,2 | 6 | 0,0 | +6.7% | +8.8% | +89.4% | 26,4 | 36 | NETRALTAHAN |
| DSSA | Holding/Diversifikasi | 965 | 149,3 | 17,4x | 35,9x | 3,9x | 12,3 | 20 | 0,0 | -6.0% | +2.2% | +17.0% | 470,9 | 32 | NETRALKURANGI |
| INDY | Produsen | 2.610 | 13,6 | 8,1x | 54,3x | 0,6x | 1,2 | 8 | 0,4 | +19.9% | — | +24.9% | 68,1 | 29 | NETRALTAHAN |
| BUMI | Produsen | 165 | 61,3 | 14,3x | 28,7x | 2,3x | 7,2 | 17 | 0,0 | +27.9% | +188.4% | +12.2% | 582,6 | 25 | NETRALKURANGI |
| HRUM | Produsen | 820 | 10,8 | 5,3x | 13,6x | 0,6x | 4,6 | 11 | 0,0 | +67.4% | +22.6% | +6.5% | 13,3 | 21 | HINDARIHINDARI |
| TOBA | Produsen | 438 | 3,6 | — | — | 1,2x | -39,1 | -9 | 4,2 | +0.5% | — | +3.8% | 7,9 | 18 | HINDARIHINDARI |
| CUAN | Produsen | 655 | 73,6 | 20,6x | 27,0x | 12,2x | 43,9 | 17 | 0,0 | +59.3% | — | +2.3% | 365,8 | 14 | HINDARIHINDARI |
| IATA | Produsen | 101 | 3,2 | 24,6x | 56,9x | 1,4x | 2,4 | 13 | 0,0 | -16.5% | -82.4% | +71.2% | 103,9 | 11 | HINDARIHINDARI |
| TCPI | Logistik | 1.800 | 9,0 | 38,5x | 64,5x | 4,2x | 6,5 | 13 | 0,4 | +13.0% | +23.8% | -69.0% | 14,2 | 7 | HINDARIHINDARI |
| PTRO | Kontraktor | 4.040 | 40,8 | 29,4x | 59,1x | 8,7x | 14,2 | 10 | 0,0 | +54.9% | — | +2.0% | 238,4 | 4 | HINDARIHINDARI |
| DOIDTIDAK LIKUID | Kontraktor | 208 | 1,5 | — | — | 11,6x | -2.123,2 | -3 | 0,0 | -15.7% | — | +5.0% | 1,0 | 0 | HINDARIHINDARI |
EV/EBITDA = metrik valuasi utama sektor tambang (netral struktur modal & D&A besar). Kontraktor/trader/logistik/holding maks LAYAK. Emiten pelapor USD: item absolut dikonversi ke IDR, P/B dikoreksi ÷ kurs, EV/EBITDA dihitung sendiri. Framework v2 (laporan3): skor = PERINGKAT PERSENTIL 0–100 terhadap peer (bukan z-score), metrik hilang menurunkan coverage (bukan dinetralkan). Rating = kuartil komposit × cek absolut vs histori emiten sendiri (yield, P/B, posisi harga 5 thn, multiple vs riwayat kita). Aksi (BELI/CICIL/TAHAN/KURANGI/HINDARI) = rating + syarat waktu (fase industri, tren MA50, overbought, pisau jatuh, bandar, event), berubah hanya bila bertahan 3 hari. Fundamental: laporan kuartalan Yahoo Finance, LTM dihitung sendiri (FY + YTD − YTD lalu). Bukan rekomendasi — alat bantu keputusan.
Harga & laporan keuangan emiten: Yahoo Finance · HBA 4 tier: Kepmen ESDM (via media resmi, seed ber-sumber 2×/bulan) · Newcastle: TradingEconomics · Histori bulanan: IMF PCPS via DBnomics · Konten kualitatif: dikurasi dengan sumber per kartu. (konten terakhir di-update 2026-09-28).
Data analisa: 2026-10-12. Bukan rekomendasi jual/beli — alat bantu keputusan berbasis data. Skor dihitung rules-based tanpa AI.